Fitrah Seksualitas Anak

Level 11 Kuliah bunda sayang

Alhamdulillah akhirnya selesai sudah menjalankan tantangan 10 hari di kuliah bunda sayang dengan tema membangkitkan fitrah seksualitas anak.

Konsep kali ini berbeda dengan level-level sebelumnya. Kami diajak untuk “Learning by Teaching“. Jadi, kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok harus mempresentasikan materi yang telah ditentukan sebanyak 1 kali. Setelah itu kami berdiskusi dan merangkum materi presentasi baik dari kelompok kami maupun kelompok lain. Sesungguhnya di level ini benar-benar membuka pikiran saya bahwa masih banyak PR yang harus dipersiapkan sebagai orang tua.

Sebelum lanjut ke pembahasan berikutnya saya akan menjelaskan terlebih dahulu definisi dari fitrah seksualitas.

ustadz harry santosa

Sampai sini sudah paham kan? Ok lanjut. Lalu muncul pertanyaan lain, mengapa penting untuk membangkitkan fitrah seksualitas ini?

Tentu agar anak tumbuh menjadi  pribadi yang memiliki seksualitas yang benar serta memiliki pemahaman peran dan kewajibannya ketika dewasa.

Anak laki-laki tumbuh dengan fitrahnya yang memiliki sifat maskulin,  bertanggung jawab dan mengayomi keluarga. Sedangkan anak perempuan tumbuh dengan fitrahnya yang memiliki sifat feminin, penyayang, lemah lembut sehingga memahami perannya ketika menjadi seorang ibu.

Dan berikut adalah 5 hal yang dapat saya simpulkan dari beberapa materi presentasi kelompok kuliah bunda sayang untuk membangkitkan fitrah seksualitas anak:

1. Dekatkan anak pada kedua orang tuanya

fitrah based education

Dapat dilihat dari gambar diatas bahwa peran kedua orang tua dalam mendidik anak sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan fitrah seksualitas. Sudah saatnya sekarang melepas predikat bahwa hanya ibu sajalah yang memiliki tugas utama dalam mendidik anak.

Lalu bagaimana cara mendidik anak dari keadaan orang tua dengan kondisi yang tidak ideal? Dari hasil diskusi kelompok kemarin apabila seorang anak yang kehilangan salah satu sosok orang tua baik karena meninggal, perceraian, ataupun kondisi keluarga yang mengharuskan terpisah sementara maka wajib diberikan sosok pengganti sampai mencapai aqil baligh baik dari keluarga besar maupun komunitas.

2. Didik anak sesuai dengan fitrah dan gendernya

Gender adalah perbedaan laki-laki dan perempuan yang dibedakan berdasarkan sifat bawaan. Misalnya adalah anak laki-laki identik dengan memiliki sifat maskulin, gagah, pemberani sedangkan anak perempuan memilki sifat lemah lembut. Tugas kita sebagai orang tua adalah bagaimana mendidik seorang anak berdasarkan jenis kelamin sesuai dengan sifat bawaan gender masing-masing.

Beberapa hal yang dilakukan untuk memperkuat identitas gender anak:

  • Memperkuat identitas gender melalui jenis kelamin. Ajarkan mengenai aurat sesuai dengan gendernya. Selain untuk memperkuat identitas gender hal ini dilakukan untuk menghindari kekerasan atau pelecehan seksual. Contoh: hanya anak perempuan yang menggunakan rok, kerudung dan mukena sedangkan anak laki-laki menggunakan celana, peci dan sarung.
  • Pembagian tugas sesuai dengan gendernya. Pembagian tugas untuk anak laki-laki lebih condong pada kekuatan & keberanian sedangkan tugas untuk anak perempuan lebih condong pada kelembutan & ketelitian. Contoh: anak laki-laki melakukan tugas untuk mengangkat barang-barang berat sedangkan anak perempuan diminta untuk membereskan lemari pakaian atau menjahit.
  • Mengajarkan melalui permainan. Anak laki-laki bersifat gagah dan pemberani dan anak perempuan bersifat lemah lembut dan keibuanContoh: anak laki-laki bermain bola dan anak perempuan bermain boneka dengan peran sebagai ibu.

3. Bangun komunikasi yang baik antara orang tua dan anak

Ciptakan komunikasi yang baik pada anak agar anak selalu terbuka dengan orang tuanya. Hal ini bertujuan agar anak merasa nyaman dan percaya kepada Anda untuk menceritakan masalah pribadinya.

Mengutip dari nasehat pendiri komunitas Ibu Profesional, Ibu Septi Peni Wulandani beliau mengajak untuk memperbanyak ngobrol bareng, makan bareng dan beraktivitas bareng dengan anak.

4. Tanamkan pendidikan agama yang baik dalam keluarga

Budaya di era globalisasi ini bisa saja berubah. Apa yang tidak lazim pada hari ini bisa saja menjadi lazim di masa yang akan datang. Untuk menyaring budaya-budaya tersebut apakah sesuai atau tidak maka kita kembali lagi pada penanaman agama yang kuat pada masing-masing individu.

al baqarah 2

5. It takes a village to raise a child

Sejatinya kepribadian anak tidak hanya terbentuk dari pendidikan orang tua saja, melainkan dari teman dan masyarakat di sekitarnya. Maka tugas kita adalah mencarikan lingkungan yang baik untuk anak-anak kita.

Selain 5 hal di atas jangan lupa untuk selalu memanjatkan doa terbaik untuk anak-anak. Semoga kita dapat menjadi orang tua yang terbaik dan semoga Allah selalu memberikan perlindungan pada anak-anak kita. Aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.