My Journey as a Stay At Home Mom (SAHM)

My Journey as a Stay at Home Mom

Menjadi Ibu Rumah Tangga itu, tidak pernah terbesit dipikiranku sebelumnya. Yang aku tau, aku hanya mau bekerja di kantoran dan memiliki penghasilan sendiri seperti Ibuku.

Sampai akhirnya aku menikah, aku dan suamiku memutuskan untuk Long Distance Marriage (LDM) untuk beberapa tahun pertama. Aku bekerja di Jakarta dan suamiku bekerja di Singapura. Kami juga berencana menunda untuk memiliki momongan terlebih dahulu selama LDM ini.

Manusia hanya bisa berencana, Tuhanlah yang menentukan. Qadarullah, beberapa bulan setelah menikah aku hamil. Antara senang, kaget dan panik aku mengetahui kehamilanku ini. Senang karena Allah mempercayakan untuk memiliki momongan secepat itu dan panik karena memikirkan bagaimana target-target hidup yang sudah aku rencanakan sebelum menikah.

Dan ternyata, LDM saat hamil itu jauh lebih menyiksa. Hormon-hormon kehamilanku ini membuat aku yang terbiasa mandiri menjadi super ketergantungan dengan orang lain. Apalagi di awal kehamilan aku sempat bedrest di rumah sakit. Hal-hal ini lah yang menyadarkanku untuk menurunkan idealismeku. Dan akhirnya, aku memutuskan untuk resign dari pekerjaan kantor dan ikut suami merantau ke Singapura.

Awal Perjalanan

Let the (1)

Jadi Ibu Rumah Tangga itu gak jauh-jauh dari mengurus rumah dan anak. Dan aku tidak pernah menyangka bahwa mengurus rumah dan anak itu harus belajar… Banyak!!

Aku teringat diawal ketika aku mengurus rumah. Untuk membersihkan rumah aku sudah terbiasa mengerjakan hal tersebut sendiri. Tapi kalau soal masak aku perlu belajar dari nol.

Baca-baca resep masakan adalah kegiatan rutin saya waktu itu. Dalam menyiapkan bahan-bahan masakan, kalau baca resep disuruh memasukan air ke dalam panci 1 Liter, aku benar-benar ukur air itu 1 Liter di gelas ukur. Disuruh memotong jahe 1 ruas jari, aku benar-benar potong jahenya sebesar ruas jariku.

Dan yang aku paling bingung kalau ada resep masakan bilang: gula dan garam secukupnya. Secukupnya itu seberapa banyak??? 🙄 Ya walaupun setelah mahir bisa memasak tersadar bahwa takaran gula dan garam itu memang kira-kira sampai perpaduan keduanya itu pas.

Belum lagi diawal-awal ketika aku memiliki anak. Hal yang paling membuatku kaget adalah harus tetap “bekerja” meski merasa lelah sekalipun.  Walaupun bekas jahitan operasi  masih sakit, puting sakit karena lecet di awal menyusui, lelah begadang di malam hari tapi aku harus tetap standby mengurus si bayi. Padahal waktu itu aku masih mendapat bantuan dari orang tua karena aku melahirkan di kota tempat dimana orang tuaku tinggal. Tetap saja aku kaget, sungguh berbeda sekali dengan kehidupanku sebelumnya. Tak jarang juga aku sering menangis karena ini.

Tetapi itu dulu, 5 tahun yang lalu. Kini aku sudah mulai terbiasa dengan keadaan ini. Setelah anak kedua aku mulai berani melahirkan dan mengurus anak sendiri di Singapura bersama suami. Aku lebih ikhlas dengan keadaan dimana aku lelah tetapi harus tetap mengurus anak apalagi tanpa Asisten Rumah Tangga (ART), ya walaupun terkadang aku masih merasa jenuh juga tapi tidak separah yang dulu.

Aku teringat bahwa pekerjaan sebagai Ibu ini memiliki pahala mengalir yang banyak, Aamiiin. Dan beberapa keluarga dan teman-teman sering mengingatkan bahwa ketika anak sudah besar, kita pasti akan rindu sekali pada masa dimana anak-anak masih kecil dan dekat dengan kita.

Pengembangan Diri

Lima tahun aku hanya berkutat dengan belajar ilmu mengenai rumah tangga dan parenting. Entah kenapa di tahun ke lima ini aku merasa sudah settle dengan ilmu tersebut dan berusaha untuk mencari-cari ilmu baru yang lain.

Tapi bukan berarti aku berhenti belajar tentang ilmu rumah tangga dan parenting tersebut. Sungguh aku masih perlu banyak belajar. Mengurus anak kedua pun aku masih suka membaca artikel dan buku parenting untuk meyakinkan bahwa apa yang aku lakukan itu sudah benar. Apalagi ilmu pengetahuan itu sifatnya terus berkembang. Mendidik anak jaman dahulu, tentu berbeda dengan mendidik anak jaman sekarang.

Kelas online dan offline aku ikuti untuk mendapatkan ilmu-ilmu baru. Ya walaupun di kelas offline aku masih banyak bolosnya karena saat ini aku lebih memprioritaskan hak-hak anak terlebih dahulu karena mereka masih kecil.

Dan ditengah-tengah mencari ilmu baru ini aku mencoba untuk kembali mengasah kemampuan enterpreneur yang dulu aku pernah jalani saat kuliah. Walaupun di awal untung yang didapat tidak seberapa tapi saya sangat menikmati kegiatan ini.

Sekarang pun aku mulai terjun ke kegiatan volunteer. Dan lagi-lagi rasanya senang sekali bisa membantu dan bermanfaat bagi orang lain.

Dan sungguh menyenangkan punya kegiatan lain selain dari mengurus rumah tangga dan anak-anak. Harapanku kedepannya adalah aku bisa tetap mengembangkan kemampuan diri sekaligus bermanfaat untuk orang lain tanpa mengesampingkan keluarga dan anak-anak. Semoga selalu ada jalan ke depannya. Aamiin.

 

Advertisements

2 thoughts on “My Journey as a Stay At Home Mom (SAHM)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.